Langsung ke konten utama

Postingan

Menulis Itu Tidak Gampang

Menulis itu tidak gampang. Ya, itulah kesimpulan saya hari ini bahwa menulis itu bukanlah hal yang mudah. Buktinya, hingga hari ke-22 sejak mengikuti tantangan menulis setiap hari di Kelas Literasi Ibu Profesional, saya baru bisa menyelesaikan 3 tulisan. Saya akan mencoba menganalisis faktor-faktor penyebab belum berhasilnya saya mengunggah satu tulisan per hari. Overthinking Awalnya saya berpikir bahwa menulis itu sangat mudah. Cukup dengan menyadari apa yang sedang saya pikirkan saat ini atau apa yang sedang saya rasakan saat ini. Lalu tuliskan saja semuanya. Namun ternyata, saat jari-jari sudah sangat dekat dengan keyboard, rasanya seolah-olah ada yang menahan jari-jari ini untuk segera beradu dengan keyboard. Mulai dari munculnya pikiran yang menyatakan bahwa bahwa ide penulisan saya tidak menarik, bahasanya terlalu kaku, diksi yang saya pilih tidak menarik, tulisan saya sepertinya tidak akan menarik minat orang lain untuk membacanya. Pikiran-pikiran seperti itu biasanya sukses mem...

Penolong Terbaik

A'uudzubillaahi minasy syaithaanirrajiim. Bismillaahirrahmaanirrahiim.  "Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu, maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang- orang mukmin bertawakkal." {Q.S. Ali 'Imran (3:160)} Dalam menjalani kehidupan sehari-hari  kadang kita merasa hari yang kita jalani adalah hari yang mudah, santai, menyenangkan. Namun adakalanya kita juga merasa bahwa hari itu adalah hari yang berat, lama, merasa ingin keluar dari situasi yang rasanya tidak sanggup kita hadapi. Beratnya hari mungkin disebabkan karena sangat banyaknya tugas yang menjadi tanggung jawab kita yang harus diselesaikan, atau karena ada masalah dalam keluarga, atau ada ketidakselarasan dengan tetangga, atau situasi ekonomi pribadi yang belum sesuai harapan kita, atau karena ada anggota keluarga yang sedang sakit dan banyak hal lain yang menjadi latar belakang. Saat mengalami har...

Bismillah Aja Dulu!

Assalaamu'alaikum wr wb.  Hai semuanya. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk hadir di sini. (Hehehe.. anggap saja banyak yang mampir) Alhamdulillah.. Segala puji bagi Allah karena telah memberikan waktu untuk meninggalkan jejak di hari perdana di tahun 2023 ini. Semoga senantiasa Allah limpahkan keberkahan di setiap waktu yang masih dititipkan pada diri ini.  Mengawali awal tahun 2023 ini, demi memenuhi hasrat hati yang masih terus bermimpi untuk aktif menulis, akhirnya aku memberanikan diri untuk bergabung dalam Komunitas Literasi Ibu Profesional (KLIP). Sebuah wadah, komunitas yang menjadi bagian dari Ibu Profesional bagi perempuan-perempuan yang mempunyai minat dalam dunia kepenulisan. Target pribadiku dalam mengikuti komunitas ini adalah mampu menyetor 30 tulisan setiap bulan. Haha.. target ini tampaknya tak mudah dicapai.Tapi, tak mudah bukan berarti tak mungkin kan. Bismillah saja dulu. Tak apalah memasang target tinggi, mudah-mudahan minimal 10 tulisan perbulan, ma...

Bahagiaku Menjadi Ibu untuk Anak Istimewaku

Pernah bermimpi menjadi Ibu istimewa? Atau, pernah berimajinasi, bagaimana jika saya menjadi ibu istimewa? Saya pernah. Dan, atas kehendak Yang Maha Kuasa pula, saya diizinkan untuk menjalani peran ini.  Bagaimana ceritanya? Tunggu sebentar. Ada baiknya, kita samakan dulu persepsi tentang istilah "ibu istimewa" ini ya. Ibu istimewa dalam tulisan ini maksudnya adalah ibu yang diamanahi anak istimewa atau anak spesial. Ya, pada dasarnya semua ibu dan semua anak memang istimewa. Namun, penggunaan istilah istimewa di sini, lebih merujuk pada anak yang membutuhkan perlakuan khusus untuk mendukung tumbuh kembangnya. Kisah bermula ketika anak sulung saya, yang sampai sekarang masih belum beradik, menapaki usia 2 tahun. Di usia itu, ia masih terbatas dalam berbicara. Di saat anak-anak seusianya sudah bisa menggabungkan dua kata sekaligus atau memahami kalimat perintah sederhana, si sulung saya baru mampu mengungkapkan kata Aya (Ayah) dan Adda (Bunda). Saat namanya dipanggil, ia cende...

Semai Harapan : Tentang Rasa dan Harapku Bersama Ibu Profesional

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Sebulan berlalu sejak Foundation 11 dimulai. Bagaimana perasaanku? Campur aduk macam gado-gado.  Penasaran, penuh harap, terharu, kadang nangis, namun muaranya Alhamdulillah bahagia. Dan insyaAllah selalu bahagia. Walaupun faktanya dalam keseharian tak selamanya kumerasa bahagia. Namun setelah mendapat "wejangan" dan memperoleh pencerahan dari Pak Dodik, Bu Septi, dan Bunda2 bahagia yang membersamai kami selama mengikuti Foundation 11, pikiran ini seolah "tersetting" untuk menuju bahagia, bahagia, dan bahagia. Alhamdulillaah. Semoga saya dan semua teman-teman di Foundation 11 semuanya lulus dan resmi menjadi member Ibu profesional. Aamiin yaa Rabbal'aalamiin. Harapan saya setelah lulus yaitu mampu menjadi istri, ibu, dan perempuan yang selalu bahagia. Dan kebahagiaannya berdampak bagi siapa pun, kapan pun, dan dimana pun saya berada. Semoga ilmu- ilmu yang saya terima di jurusan nanti bisa dengan konsisten saya terapkan dalam kehidup...